CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »
Tampilkan postingan dengan label HAnd Out. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HAnd Out. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Mei 2013

Peran Fungsi Bidan


HAND OUT


Nama Mata Kuliah   :  Konsep Kebidanan
Kode Mata Kuliah    :  Bd. 401
Pokok Bahasan         :  Peran fungsi bidan                                                                       
Dosen                         :  
Pertemuan ke            :
Waktu Pertemuan     :

Objek Perilaku Siswa (OPS)            :
Pada akhir perkuliahan diharapkan mahasiswa mampu menjelaskan peran fungsi bidan

Referensi  :
  1. Mustika, Sofyan. 2004. Bidan Menyonsong Masa Depan. PP IBI, Ja.karta
  2. Soemardejan, Selo dan Reksoprodio, Muki, Profesi Bidan Sebuah Perjalanan Karir
  3. Wahyuningsih, H.P, 2005, Etika Profesi Kebidanan, Fitramaya, Yogyakarta.

Uraian materi
PERAN FUNGSI BIDAN
A.  Peran Bidan
1.      Peran sebagai pelaksana
a.      Tugas mandiri
1)      Menetapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan yang diberikan
a)      Mengkaji status kesehatan untuk memenuhi kebutuhan asuhan klien
b)      Menentukan diagnosa
c)      Menyusun rencana tindakan sesuai dengan masalah yang dihadapi
d)     Melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana yang telah disusun
e)      Mengevaluasi tindakan yang telah diberikan
f)       Membuat rencana tindak lanjut kegiatan/tindakan
g)      Membuat catatan dan laporan kegiatan/tindakan

2)      Memberikan pelayanan dasar pada anak, remaja dan wanita pranikah dengan melibatkan klien
a)      Mengkaji status kesehatan dan kebutuhan anak remaja dan wanita dalam masa para nikah
b)      Menentukan diagnosa dan kebutuhan pelayanan dasar
c)      Menyusun rencana tindakan/layanan sebagai prioritas dasar bersama klien
d)     Melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana yang telah disusun
e)      Mengevaluasi tindakan yang telah diberikan
f)       Membuat rencana tindak lanjut kegiatan/tindakan
g)      Membuat catatan dan pelaporan asuhan kebidanan

3)      Memberikan asuhan kebidanan pada klien selama kehamilan normal
a)      Mengkaji status kesehatan klien yang dalam keadaan hamil
b)      Menentukan diagnosa kebidanan dan kebutuhan kesehatan klien
c)      Menyusun rencana asuhan kebidanan bersama klien sesuai dengan prioritas masalah
d)     Melaksanakan asuhan kebidanan  sesuai dengan rencana yang telah disusun
e)      Mengevaluasi hasil asuhan  yang telah diberikan bersama klien
f)       Membuat rencana tindak lanjut asuhan kebidanan bersama klien
g)      Membuat catatan dan laporan  asuhan kebidanan yang telah diberikan

4)      Memberikan asuhan kebidanan pada klien dalam masa persalinan dengan melibatkan klien dan keluarga
a)      Mengkaji status kesehatan klien yang dalam masa persalinan
b)      Menentukan diagnosa kebidanan dan kebutuhan asuhan kebidanan dalam masa persalinan
c)      Menyusun rencana asuhan kebidanan bersama klien sesuai dengan prioritas masalah
d)     Melaksanakan asuhan kebidanan  sesuai dengan rencana yang telah disusun
e)      Mengevaluasi hasil asuhan  yang telah diberikan bersama klien
f)       Membuat rencana tindak lanjut asuhan kebidanan bersama klien
g)      Membuat asuhan kebidanan
5)      Memberikan asuhan kebidanan pada BBL
a)      Mengkaji status kesehatan bayi baru lahir dengan melibatkan keluarga
b)      Menentukan diagnosa kebidanan dan kebutuhan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir
c)      Menyusun rencana asuhan kebidanan sesuai dengan prioritas masalah
d)     Melaksanakan asuhan kebidanan  sesuai dengan rencana yang telah disusun
e)      Mengevaluasi hasil asuhan  yang telah diberikan
f)       Membuat rencana tindak lanjut
g)      Membuat  rencana pencatatan dan laporan asuhan yang telah diberikan

6)      Memberikan asuhan kebidanan pada klien dalam masa nifas dengan melibatkan klien dan keluarga.
a)      Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan pada ibu nifas
b)      Menentukan diagnosa kebidanan dan kebutuhan asuhan kebidanan pada masa nifas
c)      Menyusun rencana asuhan kebidanan sesuai dengan prioritas masalah
d)     Melaksanakan asuhan kebidanan  sesuai dengan rencana yang telah disusun
e)      Mengevaluasi hasil asuhan  yang telah diberikan
f)       Membuat rencana tindak lanjut asuhan kebidanan yang telah diberikan
g)      Membuat  rencana pencatatan dan laporan asuhan yang telah diberikan

7)      Memberikan asuhan kebidanan pada wanita usia subur yang membutuhkan pelayanan KB
a)      Mengkaji kebutuhan pelayanan keluarga berencana pada PUS/WUS
b)      Menentukan diagnosa dan kebutuhan pelayanan
c)      Menyusun rencana pelayanan KB  sesuai prioritas masalah bersama klien
d)     Melaksanakan asuhan  sesuai dengan rencana yang telah disusun
e)      Mengevaluasi asuhan kebidanan  yang telah diberikan
f)       Membuat rencana tindak lanjut pelayanan bersama klien
g)      Membuat  rencana pencatatan dan laporan

8)      Memberikan asuhan kebidanan pada wanita dengan gangguan sistem reproduksi dan wanita dalam masa klimakterium dan menopause
a)      Mengkaji status kesehatan dan kebutuhan asuhan klien
b)      Menentukan diagnosa, prognosa, prioritas dan kebutuhan asuhan
c)      Menyusun rencana asuhan sesuai prioritas masalah bersama klien
d)     Melaksanakan asuhan kebidanan  sesuai dengan rencana yang telah disusun
e)      Mengevaluasi bersama klien hasil asuhan  yang telah diberikan
f)       Membuat rencana tindak lanjut bersama klien
g)      Membuat pencatatan dan pelaporan asuhan

9)      Memberikan asuhan kebidanan pada bayi balita dengan melibatkan keluarga
a)       Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan sesuai dengan tumbuh kembang bayi/balita
b)      Menentukan diagnosa dan prioritas masalah
c)      Menyusun rencana asuhan sesuai dengan rencana
d)     Melaksanakan asuhan kebidanan  sesuai dengan rencana yang telah disusun
e)      Mengevaluasi hasil asuhan  yang telah diberikan
f)       Membuat rencana tindak lanjut asuhan kebidanan yang telah diberikan
g)      Membuat  rencana pencatatan dan laporan asuhan yang telah diberikan

b.      Tugas Kolaborasi atau kerjasama
1)      Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan sesuai fungsi kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga
2)      Memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan resiko tinggi dan pertolongan pertama pada kegawatan yang memerlukan tindakan kolaborasi
3)      Memberikan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa persalinan dengan resiko tinggi dan keadaan kegawatan yang memerlukan pertolongan pertama dengan tindakan kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga
4)      Memberikan asuhan kebidana pada ibu dalam masa nifas dengan resiko tinggi dan pertolongan pertama dalam keadaan kegawat daruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi dengan klien dan keluarga.
5)      Memberikan asuhan kebidanan pada BBL dengan resiko tinggi dan yang mengalami komplikasi serta kegawatdaruratan yang memerlukan pertolongan pertama dengan tindakan kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga
6)      Memberikan asuhan kebidanan kepada balita dengan resiko tinggi dan mengalami komplilkasi serta kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi dengan melibatkan keluarga.

c.       Tugas ketergantungan atau rujukan
1)      Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan sesuai dengan fungsi keterlibatan klien dan keluarga
2)      Memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada ibu hamil dengan resiko tinggi dan kegawat daruratan.
3)      Memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada  masa persalinan dengan penyulit tertentu dengan kegawatdaruratan dengan melibatkan klien dan keluarga
4)      Memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada ibu dalam masa nifas dengan penyulit tertentu dengan kegawatdaruratan dengan melibatkan klien dan keluarga
5)      Memberikan asuhan kebidanan pada BBL dengan kelainan tertentu dan kegawatdaruratan yang memerlukan konsultasi dan rujukan  dengan melibatkan keluarga
6)      Memberikan asuhan kebidanan pada anak balita dengan kelainan tertentu dan kegawatan yang memerluakan konsultasi dan rujukan dengan melibatkan keluarga dan klin

2.      Peran sebagai pengelola
a.        Mengembangakan pelayanan dasar kesehatan terutama pelayanan kebidanan untuk individu, keluarga, kelompok khusus dan mesyarakat di wilayah kerja dengan melibatkan masyarakat dan klien.
b.       Berpartisipasi dalam melaksanakan program kesehatan dan sektor lain di wilayah kerjanya melalui peningkatan kemampuan dukun bayi, kader kesehatan, dan tenaga kesehatan lain yang berada di bawah bimbingan dalam wilayah kerjanya.

3.      Peran sebagai pendidik
a.       Memberikan pendidikan dan penyuluhan kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat tentang penanggulangan masalah kesehatan khususnya yang berhubungan dengan pihak terkait kesehatan ibu anak dan KB
b.      Melatih dan memilih kader termasuk siswa bidan dan keperawatan serta membina dukun di wilayah atau tampat kerjanya

4.      Peran sebagai peneliti dan investigator
Melakukan investigasi atau penelitian terapan dalam bidang kesehatan baik secara mandiri maupun secara kelompok


B. Fungsi bidan
1.      Fungsi pelaksana
  1. Melakukan bimbingan dan penyuluhan kepada individu dan keluarga masyarakat dan remaja masa pra perkawinan.
  2. Memberikan asuhan kebinanan pada ibu hamil normal, hamil dengan kasus patologis tertentu.
  3. Menolong persalinan normal dan khusus patologis tertentu.
  4. Merawat bayi segera setelah lahir normal dan bayi beresiko tinggi
  5. Melakukan asuhan kebidanan pada ibu nifas
  6. Memelihara kesehatan ibu dalam masa kesehatan menyusui
  7. Melakukan pelayanan KB sesuai dengan wewenangnya
  8. Melakukan pelayanan kesehatan pada anak balita dan pra sekolah
  9. Memberikan bimbingan dan pelayanan kesehatan terhadap gangguan sistem reproduksi termasuk wanita pada masa klimakterium internal, menopause sesuai dengan wewenangnya




2.         Fungsi pengelola
  1. Mengembangkan konsep kegiatan pelayanan kebidanan bagi individu, keluarga, dan kelompok masyarakat sesuai dengan kondisi, kebutuhan masyarakat setempat yang didukung oleh partisipasi masyarakat
  2. Menyusun rencana pelaksanaan pelayanan kebidanan di lingkungan unit kerjanya.
  3. Mengkoordinasikan kegiatan pelayanan kebidanan yang dipimpin oleh bidan
  4. Melakukan kerjasama dan komunikasi inter dan antar sector dalam kaitannya dengan pelayanan kebidanan
  5. Mengevaluasi hasil kegiatan tim atau unit pelayanan kebidanan yang dipimpin oleh bidan

3.      Fungsi pendidik
  1. Memberikan penyuluhan kepada individu, keluarga dan kelompok mesyarakat dalam kaitan pelayanan kebidanan di ruang lingkup kesehatan
  2. Membimbing dan melatih dukun dan kader kesehatan sesuai dengan bidang tanggung jawab bidan
  3. Memberikan bimbingan kepada para peserta didik bidan dalam kegiatan praktek di klinik dan masyarakat.
  4. Mendidik peserta didik bidan dan tenaga kesehatan lainnya sesuai dengan bidang keahliannya

4. Fungsi peneliti
  1. Malakukan evaluasi, pengkajian, survey, dan penelitian yang dilakukan sendiri atau bersama dalam ruang lingkup pelayanan kebidanan.
  2. Melakukan penelitian kesehatan keluarga dan KB



Sabtu, 18 Mei 2013

Komunikasi dan konseling dalam kebidanan


Mata Kuliah                : Komunikasi dan kondeling dalam kebidanan   
SKS                              : 1 T, 2P
Dosen                           : Delfi Prima Yufi S.ST
Topik                            : Strategi membantu klien dalam pengambilan keputusan
Sub topic                      : 
a.       .Faktor yang mempengaruhi
b.      Tipe pengambilan keputusan
c.       Pemberian informasi efektif
d.      Saat sulit dalam penerapan KIP/K
e.       Kesulitan saat konseling

A.    OBJEKTIF PERILAKU SISWA
1.      Setelah selesai perkuliahan ini, mahasiswa dapat menjelaskan tentang strategi membantu klien dalam pengambilan keputusan.
2.      Setelah sub topik ini dibahas, mahasiswa dapat menjelaskan tentang membantu klien dalam pengambilan keputusan.
3.      Tanpa melihat catatan, mahasiswa dapat menjelaskan tentang membantu klien dalam pengambilan keputusan.
B.     REFERENSI
1.      Charles V. Larson, 1986, Persuasion: Perception and Responsibility (fourth Edition), Wadsworth Publishing Company, California.
2.      Tyastuti, dkk., 2008, Komunikasi & Konseling Dalam Praktik Kebidanan, Yogyakarta: Fitramaya.
3.      Uripni,charistina lia,dkk,2003, Komunikasi Kebidanan. Jakarta: EGC.
4.      William I. Gorden, 2005. Komunikasi Kesehatan. Jakarta
5.      Yulifah, rita. 2009. Komunikasi dan konseling dalam kebidanan. Salemba.
C.    BAHAN DAN SUMBER
Hand out, Power point, LCD, Laptop, White board, Spidol.
D.    LAMPIRAN MATERI

PENDAHULUAN
 




Komunikasi adalah hubungan kontak antar dan antara manusia baik individu maupun kelompok. Dalam kehidupan sehari-hari di sadari atau tidak disadari komunikasi adalah bagian dari kehidupan manusia itu sendiri, paling tidak sejak ia dilahikan sudah berkomunikasi dengan lingkungannya. Gerak dan tangis yang pertama pada saat ia dilahirkan adalah tanda komunikasi.
Sementara itu, untuk menjalin rasa kemanusiaan yang akrab diperlukan saling pengertian sesame anggota masyarakat. Dalam hal ini, faktor komunikasi memainkan peran penting, apalagi bagi manusia modern, manusia modern yaitu manusia yang cara berpikirnya tidak spekulatif, tetapi berdasarkan logika dan rasional (penalaran) dalam melaksanakan segala kegiatan dan aktivitasnya. Kegiatan dan aktivitasnya itu akan terselenggara dengan baik melalui proses komunikasi antar manusia. Komunikasi telah menjadi bahan dari kehidupan manusia.  Berhasilny suatu komunikasi ialah apabila kita mengetahui dan mempelajari unsur-unsur yang  terkandung dalam proses komunikasi. Unsur-unsur yang di maksud adalah sumber (resource), pesan (message), saluran (chanel, media) dan penerima (receiver, audience).
Komunikasi merupakan landasan bagi profesi bidan dalam memberikan asuhan kebidanan karena tugas bidan dalam memberikan asuhan kebidanan adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat
URAIAN MATERI
 



Strategi Membantu Klien Dalam Pengambilan Keputusan
Kemampuan dan ketrampilan dalam membuat keputusan, terutama dalam masalah kedaruratan merupakan hal yang sangat penting. Dalam konseling, pengambilan keputusan mutlak ada di tangan klien, sedangkan bidan membantu klien supaya keputusan yang diambil merupakan suatu keputusan yang tepat.
4 strategi yang dapat membantu klien dalam pengambilan keputusan :
*      Membantu klien kemungkinan meninjau pilihannya.
Beri kesempatan klien untuk meninjau kembali beberapa alternatif pilihannya, agar tidak menyesal atau kecewa terhadap pilihannya.
*      Membantu klien dalam mempertimbangkan keputusan pilihan.
Melihat kembali keuntungan atau konsekuensi positif dan kerugiannya atau konsekwensi negatif.
*      Membantu klien mengevaluasi pilihan. Setelah klien menetapkan pilihannya, bantu klien untuk mencermati pilihannya.
*       Membantu klien menyusun rencana kerja untuk menyelesaikan masalahnya.
Pengambilan keputusan menggunakan 3 K yaitu mempertimbangkan kondisi, kehendak dan konsekuensinya.
*       Identifikasi kondisi yang dihadapi oleh klien
*       Susunlah daftar kehendak / pilihan keputusan
*      Untuk setiap pilihan, buatlah daftar konsekuensinya baik yang positif maupun yang negatif.
Hal-hal yang perlu ditekankan dalam pengambilan keputusan
*      Hati-hati dan bersikap bijaksana dalam pengambilan keputusan.
Pengambilan keputusan ini dibuat setelah klien diberi informasi secukupnya untuk menimbang klien sesuai dengan situasinya, diberi informed choise.
*      Bantu klien dalam pengambilan keputusan dengan memberikan saran yang sesuai dengan riwayat kesehatan, keinginan dan situasi.
*      Keputusan merupakan hak dan menjadi tanggungjawab klien.
*      Konseling bukan proses informasi melainkan informasi setelah konselor memperoleh data atau informasi tentang keadaan dan kebutuhan klien, dan informasi yang diberikan sesuai dengan kondisi klien dan kebutuhannya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan.
*      Fisik
Orang akan mengambil keputusan didasarkan pada pertimbangan fisik. Biasanya memilih hal–hal yang tidak berat dan memforsir tubuh serta tenaga. Ini tentunya didasarkan pada rasa yang dialami oleh tubuh seperti rasa sakit, tidak nyaman atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang sebaliknya memilih tingkah laku yang menimbulkan kesenangan.
*      Emosional
Pengambilan keputusan hanya didasarkan pada pengambilan keputusan atau perasaan, biasanya hal ini terjadi pada kaum perempuan. Sikap subyektifitas akan mempengaruhi sikap yang diambil, sehingga orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subyektif
*      Rasional
Pengambilan keputusan secara rasional biasanya didasarkan pada pengetahuan dan dilakukan oleh orang–orang terpelajar dan intelektual.
*      Praktikal
Didasarkan pada ketrampilan individual dan kemampuan melaksanakannya. Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan diri melalui kemampuannya dalam bertindak.
*      Interpersonal
Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang ke orang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual.
*      Struktural
Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberi hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu.
Tipe pengambilan keputusan pengambilan keputusan, saraswati, tarigan, 2002
*      Pengambilan keputusan untuk tidak berbuat apa–apa
*      Membiarkan kejadian berlalu, tanpa berbuat apa–apa karena ketidaksanggupan atau merasa tidak sangup
*      Pengambilan keputusan intuitif, bersifat segera. Terasa sebagai keputusan yang paling tepat dan langsung diputuskan.
*      Pengambilan keputusan terpaksa, karena sudah krisis. Sesuatu yang harus segera dilaksanakan.
*      Pengambilan keputusan reaktif. Seringkali dilakukan dalam situasi marah atau tergesa–gesa
*      Pengambilan keputusan yang ditangguhkan. Dialihkan pada orang lain, membiarkan orang lain yang bertanggungjawab.
*      Pengambilan keputusan secara hati–hati. Difikirkan secara baik–baik, mempertimbangkan berbagai pilihan.
Pemberian informasi dikatakan efektif apabila :
*       Informasi yang diberikan spesifik, dapat membantu klien dalam membuat keputusan.
*       Informasi disesuaikan dengan situasi klien dan mudah dimengerti.
*       Memperhatikan hal - hal :
*      Singkat dan tepat (pilih hal–hal penting yang perlu diingat klien)
*      Menggunakan bahasa sederhana
*      Gunakan alat bantu visual saat menjelaskan
*      Beri kesempatan klien untuk bertanya dan minta klien untuk mengingat hal-hal penting.
Saat - saat sulit dalam penerapan KIP/K
*      Diam
*      Klien menangis
*      Konselor meyakini bahwa tidak ada pemecahan bagi masalah klien
*      Konselor melakukan kesalahan
*      Konselor tidak tahu jawaban dari pertanyaan klien
*      Klien menolak bantuan konselor
*      Klien merasa tidak nyaman dengan jenis kelamin konselor
*      Waktu yang diiliki konselor terbatas.
*      Konselor tidak menciptakan hubungan yang baik
*      Konselor dan klien sudah saling kenal
*      Klien berbicara terus dan yang dibicarakan tidak sesuai dengan topik pembicaraan.
*      Klien bertanya tentang hal - hal pribadi konselor
*      Konselor merasa dipermalukan dengan suatu topik pembicaraan.
*      Keadaan kritis
Upaya mengatasi saat-saat sulit dalam KIP/K
*      Diam
Klien tidak mau berbicara selama beberapa waktu. Hal ini terjadi pada klien yang merasa cemas atau marah.
*      Apabila terjadi pada awal pertemuan, setelah beberapa saat, sebaiknya konselor memperhatikan hal ini dengan mengatakan : misalnya “saya mengerti hal ini sulit untuk dibicarakan”, biasanya pada awal–awal pertemuan klien –klien saya juga merasa begitu. Apakah ibu merasa cemas?
*      Apabila klien diam karena marah, sebagai konselor anda dapat berkata : bagaimana perasaan ibu setelah berada disini sekarang?. Pertanyaan–pertanyaan ini harus diikuti dengan suasana hening selama beberapa saat, pada saat ini konselor memandang klien dan memperlihatkan sikap tubuh yang menunjukkan perhatian.
*      Apabila terjadi pada pertengahan pertemuan, konselor harus memperhatikan pada konteks pembicaraan dan menilai mengapa hal ini terjadi. Mungkin hal tersebut terjadi karena klien merasa berat menceriterakan hal–hal yang pribadi atau suatu rahasia tentang dirinya atau ia tidak senang dengan sikap konselor. Pada umumnya lebih baik menunggu beberapa saat, memberikan kesempatan pada klien untuk mengekspresikan perasaan atau pikirannya, meskipun konselor merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut.
*      Apabila klien diam karena sedang berfikir. Konselor tidak perlu berusaha memecahkan kesunyian, juga tidak perlu menunjukkan sikap tidak menerima.
*       Klien menangis
Klien yang menangis tersedu–sedu membuat konselor merasa tidak nyaman. Reaksi wajar yang dapat kita lakukan adalah berusaha menenangkan, tetapi hal ini tidak selalu menguntungkan dalam konseling. Menangis bisa disebabkan karena beberapa alasan. Ada kemungkinan untuk melepaskan emosi. Dalam hal ini yang dapat dilakukan konselor adalah menunggu beberapa saat dan apabila terus menangis katakan bahwa tidak apa–apa kalau masih ingin menangis. Biasanya tangisan mereda sendiri setelah beberapa lama. Kadang–kadang menangis dilakukan untuk menarik perhatian atau untuk menghentikan pertanyaan–pertanyaan yang menyelidik lebih lanjut. Tangisan juga merupakan cara klien untuk memanipulasi konselor. Perlu ditegaskan lagi bahwa cara terbaik adalah dengan memberi kesempatan klien untuk menangis.
*      Konselor meyakini bahwa tidak ada pemecahan bagi masalah klien
Kondisi ini biasanya mencemaskan, konselor merasa tidak tau harus berbuat apa. Perlu diingat bahwa fokus utama konseling adalah pada subyek atau orangnya, bukan pada masalahnya. Meskipun masalah yang dihadapi sangat sulit, seperti misalnya seorang remaja putri ingin melakukan aborsi, sementara konselor tidak mungkin memenuhi permintaan tersebut atau misalkan seorang ibu yang kehilangan bayi yang baru dilahirkannya. Dalam hal ini tidak berarti bahwa konselor tidak dapat menolong klien. Salah satu langkah yang dapat dilakukan terhadap klien yang mendesak ingin dibantu konselor dalam memecahkan masalahnya adalah dengan mengatakan pada klien bahwa meskipun konselor tidak dapat mengubah keadaaan tetapi konselor akan selalu menyediakan waktu untuk klien, membantu klien saat–saat sulit. Semakin mengenal klien secara baik maka akan sangat membantu, karena pada klien dapat timbul perubahan pandangan atau pemikiran baru sehingga klien lebih siap dalam menghadapi masalahnya. Semakin lama klien mengeksplorasi dan mengekspresikan dirinya maka semakin memungkinkan baginya untuk memehami mengapa keadaan itu terjadi pada dirinya dan semakin menguatkan dirinya dalam menghadapi kesulitan.
*      Konselor melakukan kesalahan.
Dalam banyak hal konselor dapat melakukan suatu kesalahan, konselor mungkin salah mengartikan maksud kata–kata klien, konselor mungkin tidak konsentrasi sehingga bertanya berkali–kali pada klien tentang suatu hal, konselor mungkin memberikan informasi yang salah, konselor mungkin merasa malu atau marah karena ucapan klien. Hal utama yang terpenting untuk menciptakan hubungan yang baik dengan klien adalah bersikap jujur. Menghargai klien adalah salah satu hal yang penting dalam konseling. Menghargai dan mempercayai klien dapat ditunjukkan dengan cara mengakui bahwa konselor telah melakukan kesalahan. Minta maaflah apabila salah atau keliru. Misalnya konselor dapat mengatakan : maaf saya lupa bahwa tadi ibu sudah mengatakan kalau ibu sudah memiliki tiga orang anak. Seandainya konselor tersinggung atau marah karena kata–kata klien, konselor perlu menyadari dan dapat mengatakan penyesalan. Perlu diketahui bahwa apapun reaksi emosi konselor, akan dirasakan klien. Semakin terbuka perasaan kita selama pertemuan dengan klien maka semakin terbuka pula perasaan klien.
*      Konselor tidak tahu jawaban dari pertanyaan klien
Hal ini merupakan merupakan kecemasan yang biasa diutarakan oleh konselor. Seperti situasi sebelumnya, sudah sepantasnya mengatakan bahwa konselor tidak dapat menjawab pertanyaan klien, tetapi akan berusaha mencari informasi tersebut untuk klien. Konselor dapat menunjukkan sumber lain untuk menjawab pertanyaan tersebut. Mengelak pertanyaan atau menjawab tanpa dasar pengetahuan akan lebih berpengaruh negatif dalam hubungan dengan klien yang sudah terbina dengan baik, lebih baik mengakui keterbatasan pengetahuan konselor.
*      Klien menolak bantuan konselor
Pada pertemuan pertama penting sekali menjajagi mengapa dan apa yang mendasari atau mendorong klien untuk datang berkonsultasi, banyak klien yang merasa terpaksa datang, mungkin karena diperintah oleh mertua, mungkin karena takut mengetahui ada sesuatu dengan kondisi kesehatannya, dsb. Membuka pembicaraan dengan menanyakan mengapa mereka datang ke klinik akan sangat membantu . Selanjutnya, kita dapat mengatakan : ”Saya dapat mengerti perasaan ibu, saya senang ibu datang hari ini untuk mendiskusikan tentang kondisi kesehatan ibu, kita punya waktu untuk membicarakan tentang kebutuhan-kebutuhan ibu”. Kalau klien sama sekali tidak mau bicara, tekankan pada hal-hal yang positif, paling tidak ia sudah datang dan berkenalan dengan konselor, mungkin ia mau mempertimbangkan kembali. Sarankan untuk melakukan pertemuan lanjutan.
*      Klien merasa tidak nyaman dengan jenis kelamin konselor.
Kesulitan ini diucapkan klien dengan mengatakan :”Saya canggung membicarakan hal itu dengan wanita.” Saya berharap berhadapan dengan laki-laki.” Kemungkinan hal itu tidak disampaikan secara verbal, tetapi konselor dapat melihat dari sikap klien. Dalam situasi seperti ini, sebaiknya konselor mengemukakan hal ini dengan mengatakan:”Barangkali Bapak mengharapkan akan berhadapan dengan konselor pria?”. Selanjutnya katakan”Orang kadang-kadang awalnya merasa lebih nyaman berbicara dengan seseorang yang sama (atau berlawanan) jenis kelaminnya, menurut pengalaman saya semakin lama hal itu semakin tidak penting apabila kita sudah semakin mengenal teman bicara kita. Bagaimana kalau kita coba lanjutkan dan lihat bagaimana nantinya.!” Biasanya klien menerima, dan masalah ini hilang dengan sendirinya bila konselor bersikap penuh perhatian, menghargai klien dan tidak menilai terhadap klien. Pengunaan kata-kata menunjukkan perhatian positif dan refleksi akan sangat membantu karena klien merasa diterima apapun kata-kata yang diucapkannya.
Apabila klien menyampaikan sebelumnya bahwa dirinya menghargai konselor yang sama (atau berbeda) jenis kelaminnya, hal itu bisa dipenuhi apabila memungkinkan. Tetapi pada kenyataannya berhadapan dengan seseorang dengan jenis kelamin berbeda dan menjadi masalah bagi klien, merupakan latihan yang baik bagi klien. Karena itu sebelumnya konselor harus dapat melihat apakah klien betul-betul mau mencoba.
*      Waktu yang dimiliki konselor terbatas.
Sebaiknya sejak awal pertemuan klien mengetahui berapa lama waktu konselor yang tersedia untuk dia. Ada saat di mana konselor tidak memiliki waktu sebanyak biasanya. Karena itu konselor sebaiknya memberikan informasi tersebut beberapa saat sebelum pertemuan, meminta maaf, menjelaskan sebab keterbatasan waktunya dan menunjukkan bahwa konselor mengharapkan bertemu klien pada pertemuan selanjutnya. Meskipun waktunya sebentar , dapat diperoleh suatu hasil pembicaraan seperti halnya demonstrasi bermain peran peserta. Lebih baik memanfaatkan sedikit waktu yang ada daripada meminta klien pergi.
*      Konselor tidak menciptakan hubungan yang baik
Kadang-kadang ”rapport” yang baik dengan klien sulit terjadi. Hal ini bukan berarti konseling harus diakhiri atau mengirimkan klien kepada konselor lain. Akan lebih baik konselor minta pendapat kepada teman sesama petugas di kliniknya untuk mengamati pertemuan dan melihat dimana letak kesulitannya, apakah ada sikap klien yang membuat konselor merasa ditolak klien. Segala kemungkinannya perlu dijajagi. Salah satu aspek penting dari pelatihan adalah bahwa konselor belajar mengatasi situasi yang tidak nyaman bagi dirinya sebelum konseling yang sesungguhnya dilakukan. Mengirim atau meminta klien pergi tidak akan membantu, tetapi mungkin berpengaruh buruk pada klien. Lebih baik mencoba melanjutkan konseling, terutama dengan membuat klien merasa llebih nyaman tentang dirinya sendiri.
*      Konselor dan klien sudah saling kenal
Pada kelompok masyarakat kecil biasanya antara konselor dan klien sudah saling kenal. Kalau hubungan ini biasa-biasa saja(tidak terlalu akrab), konselor dapat melayani seperti pada umumnya, tetapi perlu ditekankan bahwa kerahasiaan akan tetap terjaga, dan konselor akan bersikap sedikit berbeda dengan sikap di luar konseling terhadap klien sebagai temannya. Apabila hubungan konselor dan klien sudah sangat akrab, perlu disampaikan pada klien bahwa lebih baik pindah ke konselor lain yang melayani konseling berdasarkan pengalaman, hubungan akrab ini dapat sangat mempengaruhi jalannya konseling.
*      Klien berbicara terus dan yang dibicarakan tidak sesuai dengan topik pembicaraan.
Situasi ini kebalikan dari situasi dimana klien tidak mau berbicara, tetapi sama-sama menimbulkan kecemasan dan kesulitan bicara bagi konselor. Apabila klien terus-menerus mengulang pembicaraan , setelah beberapa saat perlu dipotong pembicaraannya dengan mengatakan seperti : “Maafkan saya, bu, apakah ibu tegang atau cemas tentang sesuatu, saya perhatikan ibu menyatakan sesuatu hal yang sama berulang-ulang, apakah ada kesulitan yang disampaikan ?” Pertanyaan seperti ini membantu klien memfokuskan kembali percakapan.


*      Klien bertanya tentang hal-hal pribadi konselor
Hubungan konselor-klien adalah hubungan profesional, bukan hubungan sosial. Hal ini penting karena dengan demikian konselor bersikap berbeda dengan sikap orang lain dalam kehidupan klien. Hal ini mungkin sulit dimengerti klien pada awalnya, terutama kalau konselor bersikap akrab dan hangat. Resiko dari hubungan seperti ini adalah konselor mendapat pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi dari klien yang harus dijawab. Hal ini sebaiknya tidak dilakukan karena beberapa alasan. Hal ini akan mengalihkan perhatian konselor dari klien. Hal ini akan mengarah pada serangkaian pertanyaan yang pada awalnya bersifat ringan saja, lama kelamaan pertanyaan akan menjurus kepada masalah-masalah pribadi yang tidak ingin dijawab konselor. Hal ini akan menimbulkan salah pengertian pada klien, seakan ada hal yang salah pada konselor atau pada klien karena perhatian pada masalah tersebut. Kadang-kadang klien ingin tahu apakah konselor pernah mengalami hal yang sama. Jawaban ”YA” akan membuat klien tidak yakin konselor dapat menolong. Sementara kalau dijawab ”TIDAK” klien akan merasa konselor tidak tahu masalahnya. Akan lebih baik apabila ada pertanyaan-pertanyaan pribadi konselor yang menyatakan bahwa kalau konselor bercerita tentang dirinya tidak akan membantu klien , oleh karena itu lebih baik tidak bercerita. Klien akan menerima aturan ini. Hal ini akan lebih baik daripada menjawab sebagian saja dari pertanyaan klien, bukan semuanya, atau lebih-lebih mengelak karena akan merusak kepercayaannya/keterbukaan klien terhadap konselor.

*      Konselor merasa dipermalukan dengan suatu topik pembicaraan.
*      Keadaan kritis.

KESIMPULAN 




Kemampuan dan keterampilan dalam membuat keputusan, terutama dalam masalah kedaruratan merupakan hal yang sangat penting. Dalam konseling, pengambilan keputusan mutlak ada di tangan klien, sedangkan bidan membantu klien supaya keputusan yang diambil merupa Hubungan konselor-klien adalah hubungan profesional, bukan hubungan sosial. Hal ini penting karena dengan demikian konselor bersikap berbeda dengan sikap orang lain dalam kehidupan klien. Hal ini mungkin sulit dimengerti klien pada awalnya, terutama kalau konselor bersikap akrab dan hangat. Resiko dari hubungan seperti ini adalah konselor mendapat pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi dari klien yang harus dijawab. Hal ini sebaiknya tidak dilakukan karena beberapa alasan. Hal ini akan mengalihkan perhatian konselor dari klien. Hal ini akan mengarah pada serangkaian pertanyaan yang pada awalnya bersifat ringan saja, lama kelamaan pertanyaan akan menjurus kepada masalah-masalah pribadi yang tidak ingin dijawab konselor. Hal ini akan menimbulkan salah pengertian pada klien, seakan ada hal yang salah pada konselor atau pada klien karena perhatian pada masalah tersebut. Kadang-kadang klien ingin tahu apakah konselor pernah mengalami hal yang sama. Jawaban ”YA” akan membuat klien tidak yakin konselor dapat menolong. Sementara kalau dijawab ”TIDAK” klien akan merasa konselor tidak tahu masalahnya.kan suatu keputusan yang tepat.

EVALUASI
 






1.      Jelaskan faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan???
2.      Jelaskan tipe pengambilan keputusan???
3.      Jelaskan cara pemberian informasi efektif???
4.      Jelaskan upaya untuk mengatasi kesulitan???